Sunday, May 15, 2016

Angkringan dan Suara Akar Rumput

via hipwee.com

Teman teman pasti udah tau kan, apa itu angkringan? Bukan sebuah brand resto atau warung makan, tapi angkringan merupakan sebutan bagi tempat makan kaki lima pinggir jalan yang khas dengan nasi kucing, aneka sate, jahe susu, atap terpal dan kursi panjang di sekitar gerobak sehingga pelanggan lebih mudah dan dekat untuk mengambil makanan.

Angkringan identik dengan Jogja, walaupun  di kota- kota sekitar juga ada namun dengan nama lain seperti Hik di Solo dan wedangan di Klaten. Disamping itu, warung kaki lima ini juga identik dengan masyarakat kalangan bawah yang sederhana. Namun, dalam perkembangan nya, bisnis angkringan mulai dilirik oleh pengusaha dengan modal yang cukup sehingga terciptalah apa yang saya sebut angkringan modern.

 Klik untuk menemukan tiket penerbangan murah ke Jogja


Sebagai contoh salah satunya adalah angkringan Sendang. Terletak di Jl Jogja - Solo km 15 atau ± 100m sebelah barat proliman Kalasan. Tidak seperti angkringan pada umumnya, di tempat ini terdapat setidaknya 4 gerobak angkringan berjajar dengan menu lengkap di setiap gerobaknya.Bangku panjang juga disandingkan di sebelah gerobak yang dapat dijadikan tempat duduk ketika makan. Angkringan yang mengambil tempat di sebuah bengkel mobil ini juga menyediakan tempat duduk lesehan yang cukup luas sehingga dapat menampung banyak pembeli.

Dari segi menu makanan, angkringan sendang menyediakan banyak pilihan varian menu. Nasi kucing sebagai menu andalan angkringan dibuat dalam beberapa varian antara lain nasi sambel teri, nasi sambel ati, nasi sambel pete, sambel telor, dsb. Sebagai pelengkapnya disediakan juga berbagai lauk khas seperti gorengan, sate ati, sate kerang, tahu bacem, ceker, sayap, kepala ayam dan rica-rica tulang ayam pedas sebagai andalannya.

Angkringan yang  buka dari jam 17.00 ini selalu ramai pembeli. Sebelumnya angkringan identik dengan kalangan bawah, namun pemandangan berbeda terlihat di sini. Keluarga berada pun tidak sedikit yang mampir, ditunjukkan dengan banyaknya mobil yang berjajar di tempat parkir. Setiap harinya puluhan orang makan di tempat ini. Jika memutuskan untuk makan disini, usahakan untuk datang sebelum jam 20.00, sebab jika teman-teman telat sedikit saja, kemungkinan akan kecewa sebab makanan sudah habis, apalagi saat weekend atau liburan tiba.

Selain di daerah sendiri, tempat makan jenis ini juga mulai mudah ditemukan di kota besar seperti Jakarta. Kebanyakan pelaku bisnis angkringan di sana juga orang Jogja dan sekitarnya yang kebetulan merantau. Salah satu dari sekian yang pernah saya kunjungi dengan taste yang hampir sama dengan yang ada di Jogja adalah angkringan yang berada di sekitar Mampang. Tepatnya sebelah timur (sebrang) pasar Mampang. 

Angkringan modern memang menawarkan beberapa kelebihan, antara lain tempat yang bersih, luas, terang, dan dengan penampilan yang apik. Mungkin faktor inilah yang kemudian menarik minat kalangan atas untuk mencicipi nya. Namun dengan penyediaan semua fasilitas tersebut biasanya angkringan modern menerapkan standard harga yang lebih tinggi.

Berbeda dengan angkringan konvensional yang biasanya berpenampilan sederhana, dengan tempat yang seadannya dan menu yang mungkin kelihatan kurang menarik. Namun, dibalik semua itu, angkringan jenis ini yang paling banyak diminati oleh kalangan bawah. Hanya di angkringan seperti ini kita bisa mendengarkan keluh kesah dari tukang becak, ojek, supir taksi, pedagang pasar dsb.

Obrolan seperti ini terkadang bisa menjadi semacem obat bagi kita yang terlalu sibuk dengan rutinitas tanpa hasil. Mendengarkan suara akar rumput di bawah cahaya lampu minyak sambil nyeruput jahe susu panas merupakan sebuah refleksi yang menurut saya ampuh. Pelajaran berharga dapat diambil dari ungkapan pikiran - pikiran sumeleh tersebut.




Sunday, May 1, 2016

Sate Sapi Pak Cipto, Kotagede



Tempat ini saya temukan secara tidak sengaja, saat sedang bermain-main di daerah pasar kotagede untuk membeli camilan tradisional. Pasar Kotagede memang dikenal dengan pusatnya jajanan pasar. Jenis yang dijual bercam-macam, mulai dari kue basah, kering yang tradisional maupun kekinian ada. Ditambah yang jual juga tidak hanya satu, sehingga pembeli memiliki pilihan. Jangan kaget jika sampai disana Anda melihat setiap penjual sudah di krubungi banyak pelanggan nya.

Pada awalnya, saya akan mencari makan malam di daerah umbulharjo. Terdapat satu tempat makan yang bersih, enak dan cukup murah. Mungkin akan saya ceritakan pada kesempatan lain. Melihat cuaca yang kurang mendukung, agak gerimis waktu itu, maka diputuskan untuk makan di sekitar kotagede saja. 

Ngegas tipis motor ke arah utara atau tepatnye ke arah Gedongkuning, sebelum lampu merah simpang 3 jl. kemasan, secara tidak sengaja melihat ada warung sate di sebelah kiri jalan yang cukup ramai. Setelah mengamati sejenak sambil berlalu, ternyata bukan sate kambing atau ayam yang dijual, tapi terlihat jelas pada papan nama di sudut warung tertulis Sate Sapi Pak Cipto. Setelah berpikir sejenak dan karena penasaran, akhirnya muter balik.

Saya baru kali ini menemukan warung sate sapi di Jogja. Setahu saya sate sapi yang paling terkenal dan sudah pernah saya mampir adalah Sate Sapi Pak Kimpling di daerah Ungaran, beberapa waktu sebelum masuk kota Semarang. Iseng coba search di google maps, ternyata Pak Cipto ini ada beberapa cabang di sekitaran Gedong Kuning.

https://www.google.com/search?q=sate+sapi+pak+cipto+jogja&ie=utf-8&oe=utf-8#q=sate%20sapi%20pak%20cipto%20jogja&tbs=lf:1,lf_ui:1&rflfq=1&rlha=0&rllag=-7812217,110401425,1046&tbm=lcl&oll=-7.814471197129118,110.4304751727052&ospn=0.18879258296857415,0.2952856226235667&oz=12&fll=-7.808221178960447,110.40292352170422&fspn=0.047195485074507104,0.07381613953873511&fz=14&qop=1&rlfi=hd:;si:


Menu yang dijual disini memang spesial Sate Sapi saja. Untuk masalah bumbu bisa request, bumbu kacang atau bumbu kecap. Uniknya, lontong yang disajikan tidak hanya lontong polos, namun kita bisa memesan dengan tambahan kuah sayur, yaa sama seperti lontong sayur yang dijual di kota besar seperti Jakarta. 


Satu porsi berisi 10 tusuk sate, cukup mengenyangkan apalagi ditambah dengan lontong yang juga cukup banyak. Dari segi rasa, daging sapi ini tidak memiliki serat yang keras dan juga tidak prengus seperti daging kambing. Bagi sebagian orang yang mungkin tidak tahan dengan bau prengus, bisa menjadi alternatif. Rasa dagingnya manis, entah rasa asli atau rasa dari bumbu yang telah ditambahkan. Namun bisa ditambah irisan cabe atau merica bagi Anda yang suka pedas. 


Dari segi harga, menurut saya lumayan mahal bagi kantong saya. Untuk seporsi sate + lontong kita harus mengeluarkan Rp 31.000,- Untuk makan 2 orang dengan minuman dan satu bungkus peyek, saya mengeluarkan Rp 71.000,-.