Saturday, April 30, 2016

Public Speaking




Public speaking atau secara gampangnya dapat diartikan sebagai kegiatan berbicara di depan orang banyak. Lingkupnya bisa bermacam-macam, misalnya presentasi tugas di depan kelas, arisan RT, dan lebih besar lagi. Simple kelihatannya, namun dalam prakteknya tak semudah kelihatannya. Tidak banyak orang yang dapat menguasai skill ini. Sebagian besar orang akan sangat canggung, malu, nervous dsb jika diminta untuk tampil di depan umum.

Hal hal di luar kontrol kadang terjadi jika kita memang tidak siap untuk tampil. Setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda ketika ada pada kondisi tersebut. Beberapa hal yang dapat terjadi, contohnya :

 1. Suara Hilang

Akibat canggung, kurang percaya diri dan perasaan grogi, secara tidak sadar terkadang jantung juga berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang.. :) . Detak jantung yang cepat dan kencang bisa mengakibatkan suara yang keluar dari mulut kita seperti terputus-putus, bergetar bahkan kata di ujung kalimat jadi hilang

2.  Batuk Batuk Kecil

Walaupun tidak sedang sakit batuk, flu dan sejenisnya, entah kenapa jika perasaan tidak percaya diri (PD) menyerang, tiba-tiba saja tenggorokan rasanya gatal, seperti ada saja yang mengganjal sehingga harus di-batukkan. Parahnya lagi kadang batuk kecil ini tidak dapat dikontrol. Betul? :)

 3. Gerakan Anggota Badan


Ini yang juga yang sering saya alami. Selain suara, gerakan badan kita juga akan menjadi pusat perhatian saat sedang di depan banyak orang. Nah, yang dulu saya alami dan terjadi tidak sengaja adalah memasukkan tangan ke saku celana atau garuk - garuk anggota badan seperti kepala, dagu, kening padahal tidak gatal. Hanya tiba-tiba saja seperti gatal. Namanya juga grogi.

 4. Blank

 Tiba-tiba nggak punya ide mau ngomong apalagi? Padahal sudah sangat yakin saat persiapan, sudah sangat hapal sampai diulang berkali-kali. Sampai di depan mic secara ajaib semuanya hilang. Tenang, kondisi ini juga dialami oleh temen yang lain. Biasa itu.

Tidak hanya kita yang masih pemula, bahkan public speaker profesional pun terkadang masih mengalami hal yang sama. Bedanya, dengan pengalamannya seorang profesional dapat mengendalikan keadaan. Sedikit tips & trik sederhana dalam public speaking akan saya sampaikan di posting yang lain. :)

Sunday, April 24, 2016

"Tidak ada kembalian", Kebiasaan Dagang Yang Masih Lestari



Hari Sabtu, saatnya libur dan menghabiskan waktu di rumah sambil istirahat. Tapi, perut dan mulut tidak dapat dikompromikan untuk ikutan libur juga. heuheu . Akhirnya ketika waktu makan siang datang, keluarlah saya dari rumah dengan rasa malas untuk membeli Nasi Padang. Membayangkan nasi hangat dengan rendang, daun singkong dan siraman beraneka kuah serta sambel membuat semangat saya tumbuh walaupun matahari terasa sangat terik siang itu.

Berangkatlah saya menuju satu rumah makan padang yang direkomendasikan oleh tetangga. Tapi sayang, sampai lokasi ternyata rumah makan padang tersebut tutup. Terlanjur sudah menentukan tujuan untuk makan nasi padang, maka saya melanjutkan perjalanan untuk mencari rumah makan padang yang buka di sekitar lokasi. 

Setelah beberapa saat muter-muter, ketemulah satu rumah makan padang yang buka. Walaupun jika dilihat sekilas tampilannya kurang meyakinkan, dengan bangunan semi permanen seadanya. Setelah masuk, sedikit kecewa dengan menu yang ada, sebab ternyata beberapa lauk andalan masakan padang telah ludes. Tersisa daun singkong, beberapa baskom kuah, Lele dan beberapa potong ayam goreng. 

Sudah terlanjur masuk , yaa sudah. Mungkin ini rejeki penjual yang dititipkan Tuhan lewat saya, halah. :D Pesanlah saya 2 bungkus untuk dibawa pulang, dengan lauk ayam goreng +  tempe. 

S : Berapa mbak totalnya? 
P : Delapanbelasribu mas

Dalam hati saya berpikir, "Waahh,, murah."  Maka saya berikan uang satu lembar 50 rb. Jangan heran, di Jogja dan sekitarnya masih ada beberapa makanan yang murah. Termasuk masakan padang.

P: "Waah, mas maaf.. Kembaliannya kurang 2000 e.." sambil menyodorkan uang kembalian 30rb
S: clingak clinguk, nyari makanan apa yang ada dengan harga 2000. Nyari krupuk, gak ada. Camilan, gak ada juga "Kalau jeruk hangat, berapa mbak?"
P : "2000, mas.."
S : "Ohh, kalo gitu nambah bungkus jeruk hangat aja mbak, biar pas."
Saya jadi teringat beberapa kejadian serupa, tidak ada uang kembalian yang pernah saya alami. Dan entah kenapa, sebagian besar terjadi pada tempat jualan yang kurang ramai pengunjungnya. Walaupun sebagian lainnya juga terjadi di toko besar, minimarket terkenal bahkan di tempat wisata. Jika diamati, kejadian tersebut bisa karena unsur kesengajaan dari penjual atau bisa juga tidak sengaja. 

Bukan bermaksud berprasangkan buruk terhadap penjual, namun berdasarkan ngobrol-ngobrol dengan teman atau keluarga yang pernah mengalami hal serupa, ada beberapa penjual yang memaksa pembeli untuk membeli sesuatu, dengan alasan tidak ada kembalian. Bahkan parahnya lagi, sebagian penjual tidak ada usaha untuk mengembalikan uang tersebut, sehingga mau tidak mau pembeli mengikhlaskan tanpa kompensasi.

Jika 1000 atau 2000, mungkin tidak begitu terasa bagi pembeli, tapi jika sehari saja ada 10 orang yang mengalami hal sama, maka terakumulasi 20.000/hari atau sekitar 400.000/bulan dengan 20 hari kerja. Strategi yang cukup lumayan untuk menaikkan omzet.

Memang tidak semua seperti itu. Penjual lain biasanya akan menukarkan uang tersebut ke penjual lain atau meminta si pembeli untuk menukarkannya terlebih dahulu dengan uang kecil. Bahkan ada juga penjual yang rela mengikhlaskan beberapa rupiah yang seharusnya dibayarkan sebagai akibat tidak tersedia uang receh untuk kembalian.

Kesimpulannya adalah jika kita sebagai pembeli, siapkan uang pas atau ikhlaskan saja sebagai bagian dalam usaha kita dalam berbagai. Jika kita sebagai penjual, siapkan uang receh sebanyak mungkin untuk kembalian, atau ikhlaskan beberapa rupiah bagi pembeli sebagai usaha untuk berbagi juga.

Friday, April 22, 2016

Harum, Nama Lain Kartini




Masih dalam rangka Hari Kartini, tiba-tiba teringat sebuah guyonan lawas yang akan muncuk setiap kali nama atau hari Kartini diperingati
A : Sob, aku punya tebakan nih.
B : Apaan, Broo..?
A: Siapa nama lain Kartini.?
B: Hmmm..., Gak ngerti, Bro..
A: Nama lain Kartini adalah Harum. 
B: Kok bisa..?

Ibu kita Kartini
Putri Sejati
Putri Indonesia
Harum Namanya
(Nyanyi) 

Saat ini, guyonan seperti ini sudah sangat jarang saya dengar di kalangan anak-anak atau remaja. Dulu, lawakan ini sudah sangat bisa membuat gerrr... walaupun masih ada sebagian orang yang masih belum dapat tertawa karena sambil mikir.

Memang yang namanya lawakan akan sangat bergantung juga dengan kondisi lingkungan sekitar. Saat itu, kenapa lawakan seperti ini sangat laris, menurut saya faktor utamanya adalah setiap anak masih sangat hapal lagu-lagu wajib nasional dan beberapa lagu daerah. Semacam Maju Tak Gentar, Appuse, Halo Halo Bandung, Ibu Kita Kartini, Syukur, dsb

Setiap senin, pada saat upacara bendera beberapa lagu wajib selalu dinyanyikan bersama. Rasa bangga muncul ketika bernyanyi, dengan suara yang dibuat selantang mungkin walaupun terkadang terdengar sumbang. Bahkan, menyanyikan lagu wajib merupakan salah satu mata ujian di Kelas 6 SD.

Sedangkan saat ini, selain sudah klise, kemungkinan juga tidak banyak anak-anak yang mengerti dengan lagu-lagu nasional tersebut. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab. Masuknya TV dan gadget dengan content yang lebih menarik, secara tidak langsung dapat mempengaruhi minat anak. Mereka akan lebih suka menonton video lucu, kartun atau mendengarkan lagu yang lebih kece. Tidak jarang berasal dari luar negeri dengan bahasa Inggris macem Twinkle Twinkle Little Star.

Tidak salah memang memberikan sebanyak mungkin informasi, namun mungkin akan lebih bijak jika sebagai orang dewasa kita memfilter apa yang dikonsumsi anak-anak penerus bangsa ini. Mungkin bisa dengan menambahkan content - content nasionalis pada gadget. Serta bisa juga dengan mengurangi menonton TV yang saat ini sebagian besar content nya kurang terlalu memilki efek positif.

Sampailah pada akhirnya, saya mengucapkan

SELAMAT MEMPERINGATI HARI KARTINI

Semoga bukan hanya pakaian adat dan kebaya-nya saja yang menular, akan tetapi semangat-nya juga menular kepada wanita-wanita hebat di negeri ini. Dengan pemikiran Kartini, dan ditambah meneladi pahlawan wanita lain seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dsb semoga dapat memberikan tambahan semangat bagi wanita Indonesia.


Wednesday, April 20, 2016