Hari Sabtu, saatnya libur dan menghabiskan waktu di rumah sambil istirahat. Tapi, perut dan mulut tidak dapat dikompromikan untuk ikutan libur juga. heuheu . Akhirnya ketika waktu makan siang datang, keluarlah saya dari rumah dengan rasa malas untuk membeli Nasi Padang. Membayangkan nasi hangat dengan rendang, daun singkong dan siraman beraneka kuah serta sambel membuat semangat saya tumbuh walaupun matahari terasa sangat terik siang itu.
Berangkatlah saya menuju satu rumah makan padang yang direkomendasikan oleh tetangga. Tapi sayang, sampai lokasi ternyata rumah makan padang tersebut tutup. Terlanjur sudah menentukan tujuan untuk makan nasi padang, maka saya melanjutkan perjalanan untuk mencari rumah makan padang yang buka di sekitar lokasi.
Setelah beberapa saat muter-muter, ketemulah satu rumah makan padang yang buka. Walaupun jika dilihat sekilas tampilannya kurang meyakinkan, dengan bangunan semi permanen seadanya. Setelah masuk, sedikit kecewa dengan menu yang ada, sebab ternyata beberapa lauk andalan masakan padang telah ludes. Tersisa daun singkong, beberapa baskom kuah, Lele dan beberapa potong ayam goreng.
Sudah terlanjur masuk , yaa sudah. Mungkin ini rejeki penjual yang dititipkan Tuhan lewat saya, halah. :D Pesanlah saya 2 bungkus untuk dibawa pulang, dengan lauk ayam goreng + tempe.
S : Berapa mbak totalnya?
P : Delapanbelasribu mas
Dalam hati saya berpikir, "Waahh,, murah." Maka saya berikan uang satu lembar 50 rb. Jangan heran, di Jogja dan sekitarnya masih ada beberapa makanan yang murah. Termasuk masakan padang.
P: "Waah, mas maaf.. Kembaliannya kurang 2000 e.." sambil menyodorkan uang kembalian 30rb
S: clingak clinguk, nyari makanan apa yang ada dengan harga 2000. Nyari krupuk, gak ada. Camilan, gak ada juga "Kalau jeruk hangat, berapa mbak?"
P : "2000, mas.."
S : "Ohh, kalo gitu nambah bungkus jeruk hangat aja mbak, biar pas."
Saya jadi teringat beberapa kejadian serupa, tidak ada uang kembalian yang pernah saya alami. Dan entah kenapa, sebagian besar terjadi pada tempat jualan yang kurang ramai pengunjungnya. Walaupun sebagian lainnya juga terjadi di toko besar, minimarket terkenal bahkan di tempat wisata. Jika diamati, kejadian tersebut bisa karena unsur kesengajaan dari penjual atau bisa juga tidak sengaja.
Bukan bermaksud berprasangkan buruk terhadap penjual, namun berdasarkan ngobrol-ngobrol dengan teman atau keluarga yang pernah mengalami hal serupa, ada beberapa penjual yang memaksa pembeli untuk membeli sesuatu, dengan alasan tidak ada kembalian. Bahkan parahnya lagi, sebagian penjual tidak ada usaha untuk mengembalikan uang tersebut, sehingga mau tidak mau pembeli mengikhlaskan tanpa kompensasi.
Jika 1000 atau 2000, mungkin tidak begitu terasa bagi pembeli, tapi jika sehari saja ada 10 orang yang mengalami hal sama, maka terakumulasi 20.000/hari atau sekitar 400.000/bulan dengan 20 hari kerja. Strategi yang cukup lumayan untuk menaikkan omzet.
Memang tidak semua seperti itu. Penjual lain biasanya akan menukarkan uang tersebut ke penjual lain atau meminta si pembeli untuk menukarkannya terlebih dahulu dengan uang kecil. Bahkan ada juga penjual yang rela mengikhlaskan beberapa rupiah yang seharusnya dibayarkan sebagai akibat tidak tersedia uang receh untuk kembalian.
Kesimpulannya adalah jika kita sebagai pembeli, siapkan uang pas atau ikhlaskan saja sebagai bagian dalam usaha kita dalam berbagai. Jika kita sebagai penjual, siapkan uang receh sebanyak mungkin untuk kembalian, atau ikhlaskan beberapa rupiah bagi pembeli sebagai usaha untuk berbagi juga.


0 komentar:
Post a Comment