Sebenarnya sudah lama mendapatkan info tempat makan yang ndeso ini, tapi baru ada waktu selo beberapa hari lalu untuk mencicipi masakan mangut lele khas mbah marto ini. Setelah mandi dan persiapan lainnya selesai, maka siap ngegas motor.
Sesuai info yang saya dapatkan, warung mangut lele mbah Marto ini terletak di daerah Sewon, Bantul. Browsing sana sini, akan tetapi tidak mendapat informasi yang jelas mengenai lokasi The Legend of Mangut Lele ini. Karena belum familiar dengan daerah tersebut, akhirnya harus memanfaatkan teknologi kekinian google maps.
Jika dilihat pada google maps, lokasi warung Mbah Marto ini ada pada koordinat -7.854298, 110.353360. Letak rumah/warung Mbah Marto tidak persis di pinggir jalan, akan
tetapi berada di dalam gang sempit, kurang lebih masuk sekitar 3 - 4 rumah. Jika membawa mobil maka harus
parkir di depan gang masuk rumah Simbah, namun jika membawa motor, bisa
masuk hingga ke depan rumah/warung dengan melewati gang sempit yang
hanya muat satu motor itu.
Jangan kaget ketika teman-teman sampai di lokasi. Jika dilihat sekilas suasananya seperti pedesaan biasa. Hanya banyaknya mobil yang parkir menjadi pembeda, atau malah seperti orang yang sedang punya hajatan. Selain itu jangan sampai salah, saat ini sudah banyak tetangga Simbah yang membuka usaha serupa. Yaa, sama seperti gudeg, bakpia dsb yang ketika sudah menjamur pasti ada usaha lain yang serupa dengan brand berbeda. Konon warung lain memilii rasa mangut yang sama, namun sang legenda tetap tidak tergantikan.
Warung Mbah Marto ini memang menggunakan bangunan rumah tinggal, jadi secara desain tidak diperuntukkan khusus sebagai warung. Tempat makan dibagi 2 bagian, di dalam dan diluar rumah. Terdapat 2 meja panjang di dalam dan 2 meja panjang lagi disisi luar atau teras. Sebenarnya ada tempat lain juga yakni di samping rumah, akan tetapi hanya terdapat lincak (semacem ranjang bambu)
Saat pertama kali masuk suasana homy sudah sangat terasa. Kita akan diminta mengambil menu makanan sendiri di sebuah dapur yang masih sangat tradisional. Asap dan aroma pembakaran kayu yang khas menambah suasana syahdu ala dapur ndeso jaman dulu. Tidak hanya mangut lele saja yang tersedia, ada gudeg, ayam, telur dan krecek yang bisa menambah selera makan atau sebagai alternatif jika kurang menyukai lele
Bentuk mangut lele buatan simbah ini tidak terlalu berkuah, tapi dengan daging lele yang lembut dan bumbu yang meresap, seakan dimasak lama hingga kuah bumbu kering dan meresap ke dalam daging. Kesan pada suapan pertama yang langsung terasa adalah rasa khas daging yang dimasak menggunakan kayu bakar. Nasi nya pun khas nasi liwet ndeso, yang jika dilihat dari tekstur nya sepertinya menggunakan beras ndeso juga. Lembut dan sedikit menggumpal.
Saya kurang tahu tahun berapa Simbah ini mulai berjualan. Tapi yang jelas, peran sosial media sangat berpengaruh terhadap semakin terkenal nya warung Simbah seperti hingga saat ini. Bahkan orang-orang dari luar kota pun berdatangan untuk merasakan sensasi Mangut Lele Legend ini.


0 komentar:
Post a Comment